Selasa, 31 Mei 2016 
Inspirasi Sore
Mata Pancing: "Memburu Monster Ganas Alor"
ImagePenerbangan pesawat selama tiga jam dari Jakarta ke Kupang, yang dilanjutkan pesawat perintis dari Kupang ke Alor selama 50 menit, merupakan awal perjalanan tim Mata Pancing kali ini.  Dari Dermaga kalabah di Alor, tim melanjutkan perjalanan menuju spot pemancingan dengan kapal motor Theodoras. Menuju spot pertama, kami membtuhkan waktu tujuh jam perjalanan.

Di spot pertama ini, cuaca sungguh bersahabat. Kamipun langsung melemparkan joran. Teknik popping, jigging, dan casting, kami aplikasikan dalam perjalanan ini. Yantosu, salah satu anggota tim, yang pertama kali beruntung. Umpan metal jig-nya disambar. Seekor ikan Rubby Snapper, berhasil didapatkannya. Sementara, Anthony, yang menggunakan piranti mancing lunak atau light tackle, berusaha sekuat tenaga melawan ikan yang menyambar umpannya. Setelah berjuang keras,  seekor ikan Lencam Babi, akhirnya dapat diangkat ke haluan kapal.

Sensasi menggunakan piranti mancing lunak ini sangat mengasyikkan. Saya pun ikut merasakannya, ketika joran melengkung tajam akibat ditarik ikan yang memberontak dari mata kailnya. Kali ini, mata pancing saya mendapatkan seekor ikan Kerapu Lodi.

Perburuan ikan predator yang banyak ditemui di spot Batu Gunting, menjadi target utama kami. Hamparan karang dengan cekungan yang cukup dalam, yang beberapa di antaranya bisa mencapai kedalaman 200 meter, merupakan habitat yang bagus buat ikan seperti ini.

Beberapa kali, mata pancing kami disambar ikan. Perjuangan cukup berat untuk mengangkat ikan ke buritan. Namun, beberapa kali juga kami kehilangan buruan, karena kenur kami putus atau line break.

Dalam satu kesempatan,  Pak Yanto berhasil strike. Perjuangannya sungguh berat. Perlawanan keras yang dilakukan ikan, membuat  Pak Yanto kehabisan tenaga. Jorannya dialihkan kepada Yantosu. Setelah hampir 30 menit, Yantosu pun kehabisan tenaga. Joran diambil alih Ivan. Dua jam perjuangan pemancing ini, akhirnya kamipun mendapat “monster” yang dicari.

Metal jig Pak Yanto ternyata mengenai ekor Threser Shark atau Hiu Rubah. Hiu yang beratnya bisa mencapai 500 kilogram dengan panjang mencapai 6 meter ini, sangat dicari bagi penggemar sirip hiu. Kali ini, demi menjaga ekosistem, kami melepaskan hiu tersebut.

Setelah makan di kapal, dengan masakan olahan koki kapal bernama Ambon, kamipun melanjutkan memancing. Beberapa kali umpan kami, dengan berbagai teknik mancing, disambar ikan, Kamipun mendapatkan beberapa ekor Giant Travelly, Barakuda, dan ikan tuna Gigi Anjing.

Terakhir, kami kembali mendapatkan “monster”. Umpan metal jig Yantosu disambar ikan. Perjuangan mengangkat ikan ke kapal, perlu watu lama. Akhirnya seekor Hiu Sirip Hitam atau Black Tip Shark berhasil diangkat ke buritan. Saat ikan dilepas di geladak kapal, terjadi kegaduhan. Ikan memberontak dan kami yang berada di kapal, harus menyingkir agar terhindar dari gigitan ikan hiu ini. Seorang ABK membuka pintu geladak, akhirnya, ikan berhasil diseret dan dilepas kembali ke laut.

Kamipun menyelesaikan trip kali ini. Perairan di sekitar Alor telah memberikan pengalaman yang sangat berharga, bagi kami untuk memburu monster yang selama ini dicari sebagai target pemancing.***

Tayang Sabtu, 1 Mei 2011, pukul 10:30 WIB

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Mata Pancing

Keramba GT Gorontalo
Tim Mata Pancing dan Adis Diana menjelajahi spot mancing di Gorontalo. Casting ikan GT yang memiliki tenaga besar dan liar jadi tujuan utama. Pertama kali datang ke kota yang jadi tujuan wisata ini, Adis langsung mencicipi makanan khas...
Selengkapnya

Let's Go

Lezat Rasa Geco Cianjur
Anda bingung mengisi liburan keluar kota? Coba deh mampir ke pinggiran Kota Jakarta. Di Cariu, Bogor, Jawa Barat ada penangkaran Rusa seluas 8 hektar yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Di lokasi yang sejuk tersebut...
Selengkapnya

Ulasan Sepekan

Dibalik Rusuh Tanjung Gusta
Kementerian Hukum dan HAM akan meninjau kembali aturan remisi bagi narapidana kasus korupsi, narkoba dan terorisme. Rencana itu muncul setelah permintaan narapidana pasca kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Lembaga Pemasyarakatan kelas 1A Tanjung Gusta, Medan, Kamis pekan lalu...
Selengkapnya

Pahlawan

Laetitia: Mantri Malinau di Perbatasan Negeri
Mama Leti, begitulah orang-orang mengenalnya. Sejak 1996 ia mengabdi di sebuah desa terpencil di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sebagai pelayan kesehatan. Tidak sedikitpun ia meminta biaya dari pasien yang datang berobat. Semuanya hanya berdasarkan kesukarelaan. Hari-hari ia jalani dengan...
Selengkapnya

Versi 1.0 copyright © 2010 - MNCTV - Best Viewed with IE6+, Mozilla Firefox 1.5++, Opera 7++