Sabtu, 10 Desember 2016 
Inspirasi Sore
Mata Pancing: "Memburu Monster Ganas Alor"
ImagePenerbangan pesawat selama tiga jam dari Jakarta ke Kupang, yang dilanjutkan pesawat perintis dari Kupang ke Alor selama 50 menit, merupakan awal perjalanan tim Mata Pancing kali ini.  Dari Dermaga kalabah di Alor, tim melanjutkan perjalanan menuju spot pemancingan dengan kapal motor Theodoras. Menuju spot pertama, kami membtuhkan waktu tujuh jam perjalanan.

Di spot pertama ini, cuaca sungguh bersahabat. Kamipun langsung melemparkan joran. Teknik popping, jigging, dan casting, kami aplikasikan dalam perjalanan ini. Yantosu, salah satu anggota tim, yang pertama kali beruntung. Umpan metal jig-nya disambar. Seekor ikan Rubby Snapper, berhasil didapatkannya. Sementara, Anthony, yang menggunakan piranti mancing lunak atau light tackle, berusaha sekuat tenaga melawan ikan yang menyambar umpannya. Setelah berjuang keras,  seekor ikan Lencam Babi, akhirnya dapat diangkat ke haluan kapal.

Sensasi menggunakan piranti mancing lunak ini sangat mengasyikkan. Saya pun ikut merasakannya, ketika joran melengkung tajam akibat ditarik ikan yang memberontak dari mata kailnya. Kali ini, mata pancing saya mendapatkan seekor ikan Kerapu Lodi.

Perburuan ikan predator yang banyak ditemui di spot Batu Gunting, menjadi target utama kami. Hamparan karang dengan cekungan yang cukup dalam, yang beberapa di antaranya bisa mencapai kedalaman 200 meter, merupakan habitat yang bagus buat ikan seperti ini.

Beberapa kali, mata pancing kami disambar ikan. Perjuangan cukup berat untuk mengangkat ikan ke buritan. Namun, beberapa kali juga kami kehilangan buruan, karena kenur kami putus atau line break.

Dalam satu kesempatan,  Pak Yanto berhasil strike. Perjuangannya sungguh berat. Perlawanan keras yang dilakukan ikan, membuat  Pak Yanto kehabisan tenaga. Jorannya dialihkan kepada Yantosu. Setelah hampir 30 menit, Yantosu pun kehabisan tenaga. Joran diambil alih Ivan. Dua jam perjuangan pemancing ini, akhirnya kamipun mendapat “monster” yang dicari.

Metal jig Pak Yanto ternyata mengenai ekor Threser Shark atau Hiu Rubah. Hiu yang beratnya bisa mencapai 500 kilogram dengan panjang mencapai 6 meter ini, sangat dicari bagi penggemar sirip hiu. Kali ini, demi menjaga ekosistem, kami melepaskan hiu tersebut.

Setelah makan di kapal, dengan masakan olahan koki kapal bernama Ambon, kamipun melanjutkan memancing. Beberapa kali umpan kami, dengan berbagai teknik mancing, disambar ikan, Kamipun mendapatkan beberapa ekor Giant Travelly, Barakuda, dan ikan tuna Gigi Anjing.

Terakhir, kami kembali mendapatkan “monster”. Umpan metal jig Yantosu disambar ikan. Perjuangan mengangkat ikan ke kapal, perlu watu lama. Akhirnya seekor Hiu Sirip Hitam atau Black Tip Shark berhasil diangkat ke buritan. Saat ikan dilepas di geladak kapal, terjadi kegaduhan. Ikan memberontak dan kami yang berada di kapal, harus menyingkir agar terhindar dari gigitan ikan hiu ini. Seorang ABK membuka pintu geladak, akhirnya, ikan berhasil diseret dan dilepas kembali ke laut.

Kamipun menyelesaikan trip kali ini. Perairan di sekitar Alor telah memberikan pengalaman yang sangat berharga, bagi kami untuk memburu monster yang selama ini dicari sebagai target pemancing.***

Tayang Sabtu, 1 Mei 2011, pukul 10:30 WIB

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Mata Pancing

Menaklukkan Kucing Raksasa
Thailand yang terkenal dengan sebutan “Negeri Gajah Putih” memiliki ikan air tawar terbesar di dunia. Selain itu, Bangkok yang menjadi ibukota Thailand juga memiliki ragam budaya menarik. Dari Sungai Chaopraya, kita dapat melihat kehidupan kota Bangkok dari atas...
Selengkapnya

Let's Go

Istana Terumbu Karang Pulau Sangiang
Hallo Sahabat Pelesir, liburan Ola kali ini cukup menjangkau suatu daerah yang bisa ditempuh 2 jam perjalanan dari Jakarta, yaitu Pantai Marbella di Anyer, Banten. Menikmati nuansa pantai yang ramai dengan pengunjung di sana menjadi kegiatan yang asik...
Selengkapnya

Ulasan Sepekan

Ulasan Sepekan: “Tradisi Tak Terpuji, Tak Harus Terjadi”
Peristiwa tawuran pelajar terus terjadi dan kerap memakan korban. Tak hanya itu, kericuhan pasca kelulusan sekolah seakan menjadi tradisi bagi siswa sekolah. Padahal banyak cara bisa ditempuh untuk merayakan kelulusan. Tragedi memilukan di dunia pendidikan Indonesia kembali terjadi. ...
Selengkapnya

Pahlawan

Sutrisno Edy: Pengabdi dari Ujung Timur Jawa
Sutrisno Edy, pria 58 tahun kelahiran Banyuwangi, adalah putra daerah yang memperjuangkan warga Desa Kemiri. Pria yang akrab disapa Pak Tris ini selalu mengajarkan masyarakat setempat agar bersama-sama untuk membantu warga yang sedang menderita kesulitan ekonomi. Karena...
Selengkapnya

Versi 1.0 copyright © 2010 - MNCTV - Best Viewed with IE6+, Mozilla Firefox 1.5++, Opera 7++